kenapa banyak tambang batu bara di kalimantan ?
Geografi
dhanizx
Pertanyaan
kenapa banyak tambang batu bara di kalimantan ?
2 Jawaban
-
1. Jawaban MrAgung123
karena tanah di kalimantan banyak mengandung batubara.yang di sebabkan oleh pembusukan tumbuhan berjuta-juta tahun yang lalu. -
2. Jawaban badridemestro
Guratan di wajah dan legamnya warna kulit Penghulu Sukrani, salah satu tetua adat di Kampung Batang Banyu, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, menunjukkan betapa keras kehidupan yang harus ia lakoni. Sukrani yang kini berumur 57 tahun itu berkisah panjang lebar bagaimana tak bersahabatnya kehidupan bagi dirinya dan penduduk Kampung Batang Banyu dalam delapan tahun belakangan ini. “Seluruh hidup saya ada di Batang Banyu,” ujarnya, mengawali cerita. Delapan tahun lalu, kampung halamannya masih menawarkan ketentraman dan kedamaian. Namun, kehidupan berubah ketika delapan tahun lalu ada pendatang baru yang bernama investor.Mereka datang dengan membawa berbagai kendaraan dan alat berat. Sukrani paham bahwa di tanah kampungnya tersembunyi jutaan ton batubara yang siap digali. Karena itu, sejatinya, dia mahfum kalau kemudian para investor menyerbu kampungnya untuk mengeduk komoditas tambang yang sedang laris manis itu. Dia juga manggut-manggut percaya ketika pemerintah menggembar-gemborkan bahwa investor itu datang dengan menggotong duit dan mengusung kesejahteraan. Namun, kini, sikap mafhum dan manggut-manggut itu berubah menjadi kernyit kebingungan. Maklum, “wajah” si investor itu ternyata berbeda dengan gambaran awal yang dia terima. Kini, Bumi Batang Banyu malah porak poranda karena tanahnya diaduk-aduk untuk “disaring” batubaranya. Celakanya, tanah kebun dan tanah sawah yang selama ini jadi andalan hidup penduduk juga tergerus habis. Padahal, secara teoritis, kampung ini seharusnya gemah ripah loh jinawi.Di daerah itu beroperasi beberapa perusahaan pertambangan batubara. Sebagian perusahaan tambang merupakan pemegang izin perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara (PKP2B) yang dikeluarkan pemerintah pusat. Dengan demikian, sesuai izin, konsesi penambangan yang mereka pegang pun lumayan luas. Sedangkan yang lain hanya memegang izin usaha pertambangan (IUP) yang dikeluarkan pemerintah daerah dengan wilayah penambangan yang terbatas. Tidak hanya alam yang porak poranda, lingkungan pun jadi bising.Pasalnya, jarak pemukiman dengan lokasi tambang tidak lah jauh, hanya sekitar 500 meter saja. Itu lah mengapa kenyamanan kehidupan suasana desa di Batang Banyu kini tinggal kenangan. Penduduk kampung harus membiasakan diri dengan deru mesin kendaraan yang lalu lalang lewat hauling (jalan tambang), suara ledakan dinamit, dan debu yang menggantikan embun pagi. Sumber kehidupan pun berubah