B. Indonesia

Pertanyaan

Contoh cerita pendek
Buat Cerita pendek

1 Jawaban

  • Takdirlah Sutradaranya
    Andai kau menyatukan sepasang kasih,
    tiada luka menyayat lara, tiada puitis
    mengandung dusta tiada air mata
    terbuang percuma, tiada hidup berakhir
    sia. Tidakkah kau dengar rengkuhan doa
    memanggil cinta?
    Takdir, kutulis kisahku menyentuh
    ibamu, berharap kau satukanku dengan
    kasihku.

    Disepertiga malam, masa seakan
    berhenti. Seakan semua terkesima
    mendengar munajatku yang memohon
    akan cinta.
    Kasihku berawal dari perjumpaanku
    dengan Rahman, kala ia menjadi guru
    ngajiku.
    Rahman istimewa. Ia tuli dari konsonan
    kata tak bermakna, ia bisu dari ucapan
    kotor dari bibirnya, ia lumpuh dari jalan
    mungkar. Ia hafidz. Ia nyaris sempurna.
    Namun, penglihatan diambilNya, agar ia
    tak terlena oleh kegelimangan dunia
    fana.
    Aku mencintainya.
    Suatu
    hari,
    Rahman meminagku. Aku bahagia,
    hingga aku lelah sendiri agar semesta
    tau tentang bahagiaku.
    Namun kenyataan menumbuhkan ego,
    kala orangtuaku menolak Rahman,
    bahkan mencacinya.
    “Dasar orang buta! Mau kau kasih makan
    apa anakku. Hidupmu saja di panti
    asuhan. Mau kau ajak ngemis nantinya
    he…”
    Cinta. Aku kalap. Orang tuaku murka
    hingga menumbuhkan penyakit ginjal
    dalam diriku.
    “Jika kita berjodoh, Insyaallah kita akan
    bertemu sebagai pasangan yang hahal
    La.”
    Ingin hati memeluknya. Menangis,
    bercerita akan hidupku yang rapuh
    digerogoti asa yang terlanjur bahagia.
    “Aku mencintaimu Mas.”
    “Aku pun masih mencintaimu La. Tapi,
    simpanlah cinta itu untuk pasangan kita
    kelak.”
    “Mas…” aku menunduk. Pandanganku
    kabur. Gelap.

    Nyeri menusuk igaku. Tarikan nafas
    seakan mencekikku. Setelah operasi
    ginjal tiga hari lalu, aku siuman.
    Sebuah mukena dan tape recorder ada di
    sebelah tempat tidurku.
    “Laila terkasih…
    Telah kuterima ketulusanmu dengan
    cintaku. Jaga ginjalku Lalila. Perkenalan
    denganmu adalah bahagiaku, aku pergi
    dengan tenang, kutunggu kau di surga,
    bersama kebahagiaan cinta kita.
    Insyaallah.”
    Aku terseok mengejar waktu membawa
    Rahman pergi. Menghampiri hujan uang
    serasa menjahit kulitku.
    Kejam!! Takdir… Kemana kau bawa
    Rahman? Aku ingin kebersamaan, bukan
    ginjal…
    Sebuah truk melaju kencang. Aku
    mematung di tengah jalan. Biar kuakhiri
    semua disini. Aku siap. Rodanya melaju
    semakin dekat. Aku memejamkan mata
    dan… trus itu menembus tubuhku.
    Tubuhku terlihat samar. Terasa ringan
    terangkat ke udara. “Kau tak perlu
    melakukan itu Ukhti.” suara Rahman
    lembut, lalu menggandeng tanganku
    menuju titik terang.

    Siti menangis tersedu di atas makam
    putrinya, Laila. Operasi yang dijalani
    anaknya gagal. Penyesalannya adalah
    anaknya meninggal dalam keadaan
    kecewa akan cinta yang ditentangnya. Ia
    hanya bisa meratap penuh penyesalan.
    “Maafkan ibu nak. Semoga kau bahagia
    di surga bersama Rahman…” doanya.

Pertanyaan Lainnya