Contoh cerita pendek Buat Cerita pendek
B. Indonesia
Deden1911
Pertanyaan
Contoh cerita pendek
Buat Cerita pendek
Buat Cerita pendek
1 Jawaban
-
1. Jawaban Alekoke
Takdirlah Sutradaranya
Andai kau menyatukan sepasang kasih,
tiada luka menyayat lara, tiada puitis
mengandung dusta tiada air mata
terbuang percuma, tiada hidup berakhir
sia. Tidakkah kau dengar rengkuhan doa
memanggil cinta?
Takdir, kutulis kisahku menyentuh
ibamu, berharap kau satukanku dengan
kasihku.
—
Disepertiga malam, masa seakan
berhenti. Seakan semua terkesima
mendengar munajatku yang memohon
akan cinta.
Kasihku berawal dari perjumpaanku
dengan Rahman, kala ia menjadi guru
ngajiku.
Rahman istimewa. Ia tuli dari konsonan
kata tak bermakna, ia bisu dari ucapan
kotor dari bibirnya, ia lumpuh dari jalan
mungkar. Ia hafidz. Ia nyaris sempurna.
Namun, penglihatan diambilNya, agar ia
tak terlena oleh kegelimangan dunia
fana.
Aku mencintainya.
Suatu
hari,
Rahman meminagku. Aku bahagia,
hingga aku lelah sendiri agar semesta
tau tentang bahagiaku.
Namun kenyataan menumbuhkan ego,
kala orangtuaku menolak Rahman,
bahkan mencacinya.
“Dasar orang buta! Mau kau kasih makan
apa anakku. Hidupmu saja di panti
asuhan. Mau kau ajak ngemis nantinya
he…”
Cinta. Aku kalap. Orang tuaku murka
hingga menumbuhkan penyakit ginjal
dalam diriku.
“Jika kita berjodoh, Insyaallah kita akan
bertemu sebagai pasangan yang hahal
La.”
Ingin hati memeluknya. Menangis,
bercerita akan hidupku yang rapuh
digerogoti asa yang terlanjur bahagia.
“Aku mencintaimu Mas.”
“Aku pun masih mencintaimu La. Tapi,
simpanlah cinta itu untuk pasangan kita
kelak.”
“Mas…” aku menunduk. Pandanganku
kabur. Gelap.
—
Nyeri menusuk igaku. Tarikan nafas
seakan mencekikku. Setelah operasi
ginjal tiga hari lalu, aku siuman.
Sebuah mukena dan tape recorder ada di
sebelah tempat tidurku.
“Laila terkasih…
Telah kuterima ketulusanmu dengan
cintaku. Jaga ginjalku Lalila. Perkenalan
denganmu adalah bahagiaku, aku pergi
dengan tenang, kutunggu kau di surga,
bersama kebahagiaan cinta kita.
Insyaallah.”
Aku terseok mengejar waktu membawa
Rahman pergi. Menghampiri hujan uang
serasa menjahit kulitku.
Kejam!! Takdir… Kemana kau bawa
Rahman? Aku ingin kebersamaan, bukan
ginjal…
Sebuah truk melaju kencang. Aku
mematung di tengah jalan. Biar kuakhiri
semua disini. Aku siap. Rodanya melaju
semakin dekat. Aku memejamkan mata
dan… trus itu menembus tubuhku.
Tubuhku terlihat samar. Terasa ringan
terangkat ke udara. “Kau tak perlu
melakukan itu Ukhti.” suara Rahman
lembut, lalu menggandeng tanganku
menuju titik terang.
—
Siti menangis tersedu di atas makam
putrinya, Laila. Operasi yang dijalani
anaknya gagal. Penyesalannya adalah
anaknya meninggal dalam keadaan
kecewa akan cinta yang ditentangnya. Ia
hanya bisa meratap penuh penyesalan.
“Maafkan ibu nak. Semoga kau bahagia
di surga bersama Rahman…” doanya.