B. Indonesia

Pertanyaan

Buatlah satu cerpen anak

1 Jawaban

  • Demi Persahabatan

    Persahabatan
    Aku termenung memikirkan seseorang, aku sangat senang apabila bertemu dengannya. Dia, menghiburku dikala sedih dan menolongku dikala kesusahan. Dia juga cerdas loh, biasanya dia rangking satu ketika menerima rapor, dia bernama Danil dan dia adalah sahabatku.

    Namaku Genvil, hobiku adalah membuat sebuah cerpen. Hari ini adalah hari pertamaku sekolah. Sebelum berangkat aku berpamitan dulu sama orangtua.
    “Pa.. Ma.. Genvil pergi sekolah dulu ya.” Pamitku kepada orang tuaku.
    “Hati-hati di jalan ya nak.” Kata orangtuaku serentak.
    “Iya ma.” Jawabku kepada mereka.

    Aku pergi sekolah hanya berjalan kaki karna jarak sekolahku dari rumah agak dekat. Di perjalanan aku bertemu dengan Danil.
    “Hai selamat pagi.” Sapa Danil.
    “Pagi…” Jawabku semangat.
    “Wah semangat betul hari ini.”
    “Iya dong, kan hari ini hari pertama kita duduk di kelas enam.” Jawabku sangat semangat.
    “Buruan dong! Sebab sebentar lagi bel sekolah bunyi, karena sekarang sudah pukul 07.28 WIB.” Seru Danil.
    Aku dan Danil berlari-lari hingga sampai di sekolah.



    Bel sekolahku berbunyi
    Pada pukul 07.30 WIB. Hal ini artinya aku harus masuk kelas. Untung saja aku disuruh Danil untuk cepat berjalan, kalau tidak aku akan terlambat sekolah dong.
    Tidak terasa lama pun aku dan Danil telah datang ke sekolah. Aku langsung menaruh tasku. Saat aku mau keluar kelas, bel sekolah pun berbunyi.
    Ceng… ceng… ceng…
    Aku dan murid-murid lainnya langsung duduk di kursi masing-masing dengan tertib.

    Aku sedang asyik membaca majalah dinding (mading).
    “Hai Genvil, bagaimana kabar kau?”
    Kubalikkan wajah dari majalah dinding. Dua wajah yang sangat kukenal tersenyum di hadapanku. Mereka adalah Danil dan Kino.
    “Ada apa?” Tanyaku pada mereka.
    “Kamu nggak dengar perkataanku tadi ya?” Jelas Danil padaku.
    “Maaf aku tadi sedang asyik membaca majalah dinding.” Kataku kepada mereka.
    “Baik, kami maafin kok.” Kata mereka serentak.
    “Yuk kita ke kantin!” Seru Kino.
    “Ayuk..” Jawabku.

    “Kita beli apa hari ini?” Tanya Danil.
    “Bagaimana kita beli sosis?” Kata Kino terbahak-bahak.
    “Kamu.. dari mulutmu itu keluar ludah, kamu jangan cepat-cepat dong bicaranya, kita nggak ngerti.” Kataku pada Kino.
    “Iya tuh Kino.” Kata Danil menyambung perkataanku.
    “Iya iya, aku nggak ulangi lagi kok.” Kata Kino lembut.

    Aku pulang sekolah bersama sahabatku yaitu Danil dan Kino.
    “Bagaimana sekolahnya? Serukan?” Kata Danil.
    “Iya dong.” Jawab Kino.
    “Eh.. Teman-teman, nanti sepulang sekolah kita belajar kelompok ya.” Tambah Kino.
    “Oke, tapi kita mengerjakannya di mana?” Tanyaku pada mereka.
    “Kita kerjakan di rumahku aja.” Kata Kino.
    “Oke.” Jawabku dan Danil serentak.

    Di rumah Kino.
    “Hai.. selamat siang.” Sapaku kepada Danil yang telah datang duluan.
    “Siang.” Jawabnya.
    “Bagaimana belajar kelompoknya? Jadi kan?” Tanyaku setiba di rumah Kino.
    “Jadi dong.” Jawab mereka serentak.
    Sedang asyik belajar.
    “Bagaimana nanti sore kita main sepeda?” Usul Danil.
    “Setuju.” Jawabku dan Kino serentak.

    Waktu terus berjalan, akhirnya kami telah menyelesaikan belajar kelompok.
    “Jangan lupa ya! Nanti kita main sepeda.” Kata Kino sambil membereskan buku yang berserakan.
    “Kami nggak lupa kok.” Kata Danil.
    “Aku pulang dulu ya.” Ucapku kepada mereka.

    “Genvil.” Panggil Danil ketika tiba di depan rumahku.
    “Iya, ada apa?” Kata mama padanya.
    “Ada Genvil tante?” Ucap Danil kepada mamaku.
    “Ada kok, tuh Genvilnya.” Jawab mama.
    “Hai..” Sapa Danil.
    “Hai juga.” Balasku.
    “Yuk kita ke rumah Kino!” Ajak Danil.
    “Ayuk, ma Genvil pergi dulu ya.” Ucapku kepadanya.
    “Hati-hati ya! Jangan sampai jatuh.” Nasehat mama.
    “Baik ma.” Ucapku pada mama.

    Tiba di rumah Kino.
    “Hai Kino.. yuk kita main sepeda!” Ajakku pada Kino.
    “Baik, ma Kino pergi dulu.” Pamit Kino pada mamanya.
    “Ya, hati-hati di jalan ya nak!” Nasehat mama Kino.

    Saat bermain sepeda.
    “Wah seru juga ya main sepeda sama-sama.” Kata Kino merasa senang.
    “Benar itu, lain kali kita main sepeda lagi ya.” Ucap Danil kepada Kino.
    “Oke, kita main sepedanya di sini atau di tempat lain?” Ucapku.
    “Di sini aja, kan disini tempatnya seru.” Ujar Kino sambil menghadap padaku.
    “Benar tu.” Tambah Danil.
    “Kamu Danil, dari tadi benar benar aja nih.” Ujarku pada Danil.
    “Iya tuh, Daniiil.” Ujar Kino sambil berteriak.

    Ternyata Kino masuk ke dalam sebuah lubang.
    “Tolong.. tolong..” Teriak Kino.
    “Tenang Kino, kami ada kok di sini.” Kataku pada Kino.
    Aku pun mengambil sebuah tali dan memberikannya pada Kino. Lalu aku dan Danil pun menariknya. Akhirnya Kino bisa keluar dari lubang itu.

    “Terima kasih teman-teman atas pertolongan kalian. Kalian berdua adalah sahabat terbaikku.” Kata Kino terharu.
    “Sama-sama Kino, demi sahabat kami akan selalu tetap setia.” Ucapku pada Kino.
    “Benar itu, kan kita sahabat.” Tambah Danil.
    “Kamu Danil, benar benar aja dari tadi.” Ujar Kino menghibur.
    Kami bertiga pun langsung tertawa terbahak-bahak.

    Malam harinya, aku membuat sebuah cerpen lagi. Aku membuat temanya tentang tiga orang sahabat sejati dan cerpenku kali ini berjudul “Demi Persahabatan”.

Pertanyaan Lainnya